Lucu juga ya double_bell_euphonium ini, dua bell, tapi ga bisa dipakai barengan, harus di-switch dulu valve-nya, mau pake bell yang mana. Main bell digunakan untuk menghasilkan suara euphonium asli, sedangkan bell yang lebih kecil lagi digunakan untuk menghasilkan suara seperti baritone/trombone atau untuk menciptakan efek gema tertentu.

Sayangnya, euphonium jenis ini terakhir diproduksi tahun 1960, jadi sekarang udah nggak ada lagi euphonium semacam ini. Padahal, kalau mau hemat uang dan hemat space di lapangan display, kan ga usahlah, misalnya di MB Madah Bahana UI, menggunakan 14 pemain baritone dan 6 pemain euphonium, bisa diganti dengan 14 pemain euphonium double-bell ini, bisa switch valve kalau mau mainin partitur euphonium atau baritone dan lebih efektif, ga perlu ada bar-bar kosong, he…he…he…

Seru juga kali ya kalau ada alat tiup multi-bell, jadi satu alat ada bell buat menghasilkan suara terompet, mellophone, baritone, euphonium, dan tuba sekaligus, nah…nantinya bakal ada 1 pemain solo-brass di tengah lapangan display, sisanya jadi color of guard (COG) aja, biar seru, lapangannya lebih berwarna *kata temen gw mantan anak baritone yang pernah main COG, jadi anak COG itu enaknya bisa ngengkang-ngengkang jumpalitan dan boleh ketawa terus* Sementara gw yang anak musik kaki harus rapet, torso nggak boleh bergerak, dan mana bisa ketawa….bibir kan harus nempel di mouthpiece selalu. Ngengkang jumpalitan pake rok mini ala COG? Hi…hi…itu namanya pungguk merindukan bulan.

Kalibata, 18 September 2008

Leave a Reply