Seorang kakek tua, berkacamata tebal, dengan tangan rapuh penuh keriput, duduk di atas kursi dengan sebuah buntalan berbalut kertas coklat di pangkuannya. Tangannya gemetar membuka kertas itu, lalu perlahan terlihat sebuah jambangan bunga muncul di balik pembungkusnya…jambangan bunga yang mengingatkannya di masa muda bersama kekasih tercinta, saat mereka berseteru dan salah satu membantingnya……(Video klip Padi-Sesuatu Yang Indah)

Aku ingin bercerita tentang keriput.

Setiap kali aku melihat keriput, aku selalu berpikir bahwa itu bukan sekedar pahatan usia.

Bukan sekedar seperti urat kayu yang menyatakan umurmu

Itu adalah saksi yang tak pernah alpa merekam detik-detik perjalananmu…

Berapa lama? Enam puluh tahunkah…tujuh puluh tahunkah…satu abadkah?

Suatu hari ketika jalan-jalan di kota lama Semarang, sepasang suami istri, kakek-nenek, naik sepeda berdua melintasi jalan berpaving kota lama. Si nenek berkebaya dan berkain lusuh, duduk menyamping di belakang si kakek, lengan kanannya erat melingkar di pinggang kurus si kakek, mempercayakan seluruh nyawa pada tubuh yang sama ringkihnya. Pemandangan yang luar biasa. Bisakah suatu hari aku merasakannya? Melingkarkan lenganku yang keriput pada tubuh yang sama rapuhnya tapi aku senantiasa merasa kuat saat bersamanya?

Bisakah?

Hanya saja, mencintai memang begitu sulit

Mencintai hingga keriput menghias tubuh memang begitu sulit

Seperti keriput menggores setiap pertengkaran

Seperti keriput memahat setiap perpisahan

Seperti keriput menuliskan maki dan amarah

Seperti keriput yang merekam semua kesalahpahaman

Seperti keriput yang mengukir setiap cinta dan sayang

Bisakah sepasang manusia memahat keriput bersama?

Terlalu mewahkah keinginan untuk memahat keriput bersama?

Kalibata, 17 September 2008

Leave a Reply