“ini, tolong
perbaiki,” kataku pelan sambil menyerahkan hati dalam genggaman kepada tuhan
sang pemilik lisensi sekaligus distributor tunggal

 

“kenapa bisa
seperti ini?” tanya tuhan heran sambil menatap hatiku yang masih dalam
genggaman

 

“oh, sudahlah
jangan tanya lagi. hanya akan membuat bentuknya semakin tak karuan,” jawabku
sambil meletakkannya di atas nampan

 

iya, sih. siapa pun pasti bertanya-tanya.
bentuknya sudah tak lagi seperti coklat empat belas februari. jahitan dan
dempulan di sana-sini. tisikan dan lakban malah mendominasi. di beberapa tempat
masih terlihat bekas bioplacenton dan rivanol. dan, hei, apa ini bau alkohol,
meruap di antara tempelan hansaplast yang sudah kisut.

 

hhh…setidaknya aku datang ke bengkel hati
paling terpercaya di jagat raya ini. semoga iklan yang kubaca sekilas di sampul
belakang majalah sabili yang kulihat di terminal kemarin, bukan sekedar hasil
fantasi mahasiswi komunikasi

 

“oh, ya! aku tak
mau diganti, tolong diperbaiki.

karena aku
percaya, hati tak punya subtitusi.” kataku sebelum pergi

 

“tunggu, anak
muda!”

 

“apalagi? kau
tahu `kan aku bisa melakukan apa
saja dalam keadaan seperti ini?!" jawabku tanpa menoleh

 

“mana yang
setengah lagi?”

 

aku tak berani
membalikkan badan. lama ku terdiam memikirkan jawaban, yang setidaknya
terdengar tegar

“seseorang
membawanya pergi. kuyakin kau lebih tahu dariku.”

 

“kalau begitu,
tanyakanlah padanya.”

 

hhh… percakapan
ini semakin menyesakkan dada

“tak semudah
itu. nanti-nanti sajalah, kalau aku sudah punya nyali.”

 

“mungkin kau
sendiri yang sengaja memberikannya.”

 

 

DIAM!!!

 

hhh… untung teriakan itu hanya menggema di
rongga kepala, yang membuatku jadi sedikit pening. dan, hei…apakah aku sedang
melihat kunang-kunang beterbangan? oh, sial! jangan pingsan! kau hanya akan
ditertawakan. tarik nafas dalam-dalam. hhh … betapa ini memalukan. ayo balik
kanan. tunjukkan padanya bahwa kau bukan sekedar onggokan daging sedang
jalan-jalan.

 

“mungkin begitu,
aku tak tahu. aku… aku hanya manusia biasa yang kadang jatuh cinta.” jawabku
sambil menatapnya. semoga aku tak terlihat berkaca-kaca.

“mungkin sampai
sekarang aku masih berpikir bahwa memang di situlah tempatnya. aku sungguh tak
tahu. ini masalah hati, semua serba intuisi. aku cuma bisa berharap aku tak ke
sini sambil menggenggam otak yang compang-camping, penuh tambal sulam. jangan
sampai itu terjadi. sudahlah, aku tak apa-apa. bila saatnya tiba nanti, aku
yakin kau akan memberitahuku, di mana tempat yang tepat untuk hatiku yang
setengah lagi. baiklah, aku pergi dulu. kurasa aku perlu segelas kopi dan
sebatang rokok tembakau besuki. ingat, aku mau hatiku diperbaiki, bukan
diganti, karena seperti kataku tadi, aku percaya bahwa hati tak punya
subtitusi. kutinggal dulu, ya. terima kasih banyak. nanti kubawakan segelas
kopi dan sebatang rokok tembakau besuki. selamat malam!

 

 

banyuwangi, 31
mei 2008

Comments 3 Comments »

schatje, katamu cinta adalah
seperti mengisi celengan

dan jika jarak terbentang
memisahkanmu dari seseorang

maka yang terjadi adalah
menggunakan cinta tabungan

kalau tak selalu diisi tiap hari,
isi celengan akan berkurang

dan suatu ketika kau temukan
celenganmu hampa dan kerontang

tak ada lagi sekeping logam cinta
berbunyi klontang-klontang

lalu kita mulai menyalahkan jarak
yang terentang

karena jarak adalah kambing hitam
atas ketidakpercayaan

padahal yang sesungguhnya terjadi
adalah malas mengisi celengan

atau mungkin karena kau sudah
menemukan celengan baru

yang lebih lucu dan senantiasa
membuatmu tersenyum selalu

celengan baru yang rajin diisi
dengan cinta, harapan, dan rindu

sementara celengan lama dibiarkan
teronggok berlapis debu

 

 

banyuwangi, 31 mei 2008

 

Comments 3 Comments »

Dear panitia seleksi beasiswa fulbright,

inilah yang sebenarnya ingin aku tulis di halaman esai “why i want to pursue my objectives in the u.s”

MENGAPA AKU INGIN BELAJAR DI AMERIKA

Karena jika aku di amerika,

: tak kan ada seorang kawan menanyakan kabarmu di sana
karena saat orang menyebut namamu dan menanyakanmu,
aku tak suka suaraku yang menjawab terbata-bata

: tak banyak hal yang mengingatkanku padamu
seperti bila aku masih di jakarta
karena aku tak suka memandangi margonda raya
dengan mata berkaca-kaca

: tak kan kudengar lagu-lagu indonesia,
yang sering kita nyanyikan berdua,
seolah-olah kita andra dan gita gutawa
“kau begitu sempurna di mataku, kau begitu indah…”

: tak kan ada seorang kawan lama
melihatku menangis tanpa suara
saat kudengar bahwa kau punya perempuan baru
yang tak mau kutahu namanya

karena jika aku di amerika,
aku punya gurun seluas nevada,
untuk membuang semua remah-remah,
kenangan di celengan hati yang telah pecah

sungguh, sebenarnya aku tak peduli amerika atau antartika
kalau boleh aku ingin dapat beasiswa ke antariksa
biar kupunya ruang kedap suara
sedalam luka

banyuwangi, 31 mei 2008

Comments 1 Comment »

kemarin itu apa, ya?
semoga bukan sandiwara
kalaupun iya, alangkah hebatnya

kemarin itu apa pura-pura?
kalaupun iya, betapa lamanya

kemarin itu, apa bukan cinta?
kalaupun bukan, setidaknya suka

apa itu binar-binar di mata?
apa aku salah membaca?

apa itu segala tanya?
mana jawabannya?

diam saja?

banyuwangi, may 26 2008

Comments 2 Comments »

From: mijn schatje!

27/04/08, 20:33

Schatje? Kirimi aku hangat hujan dalam genggaman. Hujanku pergi. Dibawa lari si bintang jatuh. Sial aku terlalu lama mencandu hujan…

Reply

From: schatje

27/04/08, 20:40

m-Transfer

BERHASIL

27/04 20:37:17

Ke 0786754065

MIJN SCHATJE

100.000,- rintik hujan

From: schatje

27/04/08, 20:45

Mijn schatje,

Aku baru saja mengirim 100.000 rintik hujan ke rekening hujan kamu, via mobile-raining. Tadi notifikasinya aku forward ke nomor kamu. Coba cek rekening hujan kamu, sudah masuk belum?

Soalnya kadang notifikasinya sudah masuk, tapi hujannya belum nyampai.

Ingat kan dulu, waktu aku benar-benar kehabisan hujan, saldoku tinggal 9.500 rintik, nggak bisa diambil. Trus kamu sms sudah transfer 50.000 rintik. Tapi waktu aku ke atm, saldoku nggak berubah. Aduh, mau nangis, keringet dingin. Terus aku telp ke call center, nanyain transferan hujan yang belum nyampai. Dari ujung telepon, aku mendengar jawaban klise mbak-mbak customer service: “Maaf, saat ini kami sedang ada gangguan di awan. Jadi pengiriman hujan agak terlambat. Tapi ditunggu saja, biasanya dalam satu jam sudah on-line lagi. Terima kasih.”

Dan sejam kemudian aku balik ke atm. Kamu inget kan, sampai malam juga hujannya belum masuk rekening. Hu…hu..hu…, waktu ngadu ke kamu, kamu balasnya nggak lucu: “Ya udah, sabar. Besok juga nyampe, awannya memang lagi nggak bagus. Coba kamu sembahyang minta hujan, atau nari tarian hujan di depan kosan, he..he..he.. siapa tahu langsung diguyur dari langit.”

Makanya, sekarang coba kamu cek ke atm. Kalo belum masuk, kan bisa aku kirim ulang. Maaf ya schatje, aku cuma punya 100.000 rintik buat kamu. Kamu jangan boros-boros, diirit-irit ya makainya. Minggu depan aku diundang maen lagu di sebuah perayaan sweet seventeen anak orang kaya, yang pastinya aku selipkan lagu sekaligus tanya pada si gadis muda: “I wanna know, have you ever seen the rain?”, biar nantinya dia kecanduan hujan juga seperti kita.

Nanti honornya kan bisa buat beli hujan yang banyak.

Ngomong-ngomong, aku punya banyak voucher hujan lho, suka dapet di dalam goody-bag kalo abis manggung. Di sini susah nukerin voucher hujan, orang sudah jarang make hujan, jadi banyak outlet penukaran voucher hujan yang tutup. Kalaupun ada pecinta hujan, belinya lewat internet atau sms or mobile-raining. Kalo di kota kamu kan masih banyak. Jadi, nanti kalo liburan aku bawain deh voucher-voucher hujannya. Lumayan kan buat dipakai malam-malam, kalau kamu lagi kesepian merindukan aku pulang. Berbaring semalam suntuk di atas atap rumah sambil menimati hangat hujan dalam genggaman, seperti yang sering kita lakukan saat masih sma. Hu…hu..hu…kangen…..

Denpasar, 28 April 2008

Comments 4 Comments »

Schatje,
Jika aku luka nanti,
maukah kamu menempelkan hansaplast di hati?

Hansaplast junior warna-warni itu sudah tak mempan lagi. Luka hatiku kan bukan lagi karena kalah lomba baca puisi atau remidi ulangan biologi.

Luka hatiku: karena laki-laki.

Jadi, tolong nanti tempelkan hansaplast di hati, bila laki-laki yang kucintai pergi ke lain hati ke lain bodi.

Tolong nanti belikan hansaplast heart-care, bukan hansaplast silver-care seperti yang kau belikan tempo hari. Itu lho, hansaplast heart-care, yang mengandung iodium merah kadar tinggi penyamar hati berdarah-darah, yang mengandung disinfektan ampuh menjaga agar hati yang terluka tak meradang terlalu lama.

Tahu kan harus beli di apotek mana?

Denpasar, 27 April 2008

Comments 6 Comments »

“Tolong ini buat Pak Butet, Pak,” kata seorang ibu muda berpakaian lusuh sambil menyerahkan sebuah bingkisan plastik kepada petugas jaga di Polsek Denpasar Selatan. Petugas memeriksa bingkisan itu: sekerat roti, sebungkus rokok, dan sebotol air mineral.

Saat itu sudah jam 23.00. Ogoh-ogoh sudah selesai diarak dan orang bersiap-siap amati geni. Orang sudah bersiap-siap untuk segala sunyi di hari raya Nyepi. Tapi tampaknya ibu muda itu tak ingin Pak Butet, mungkin suaminya, semakin berlipat-lipat dilanda kesepian. Maka ia mengirim sedikit makanan dan minuman. Maka ia datang meski hampir tengah malam. Setidaknya agar Pak Butet tahu bahwa sesaat sebelum Nyepi ada seseorang yang datang untuknya. Setidaknya agar Pak Butet merasakan sedikit kemewahan rasa Sari Roti setelah bosan dengan makanan sel yang itu-itu saja.

Pukul 04.00 pagi, beberapa tahanan dari 14 orang penghuni sel tersebut masih riuh bercanda. Sari Roti tinggal setengah, bungkus-bungkus rokok hampir kosong. Asap mengepul hingga langit-langit meninggalkan noda coklat seperti lukisan abstrak di eternit. Seorang petugas menemani obrolan panjang itu, sebuah obrolan akrab dan ringan mengalir. Seperti obrolan tetangga tentang cuaca atau buthakala pada pawai yang baru ditonton bersama. Bukan obrolan seorang polisi dan tersangka kasus narkoba. Mungkin mereka memang bertetangga.

Hari berganti meski tak penting bagi para penghuni sel karena sepi makin menjadi. Setelah pukul 7 malam di hari Jumat itu, amati geni baru terasa. Gelap gulita di mana-mana, di kantor polisi sekalipun. Sebuah lilin dinyalakan di dalam sel, untuk kepentingan penjagaan dan sedikit hadiah kenyamanan. Cahaya berpendar tanpa membias keluar ruangan. Senter sesekali disorot untuk mengingatkan tahanan yang terlalu gaduh. Televisi dinyalakan hampir tanpa suara, cahaya layarnya lebih dibutuhkan untuk keperluan para petugas jaga yang semuanya muslim saat itu. Bagaimana pun, Nyepi masih terjaga.

Di luar, sesekali terdengar suara anjing melolong. Melolong pada bintang-bintang yang luar biasa banyaknya malam itu, terserak berlebihan dan benderangnya cukup mengurangi ciutnya hati saat gelap dan sunyi. Dari angkasa, mungkin jarak Pulau Jawa dan Nusa Tenggara semakin lebar karena ada pulau yang tidak diterangi lampu. Pulau Bali tenggelam di selatnya sendiri sehari itu.

Padahal jauh di bawah sana, di satu titik di dekat perempatan Pantai Sanur, dua orang polisi sibuk menguliti kacang, mengusir bosan dan penat seharian bergelap-gelap. Radio panggil sepi seolah-olah hilang frekuensi, telepon tak berdering sama sekali. “Berarti aman. Kalau ada kejadian kecil biar pecalang yang ngurus,” kata Atnari, polisi Buser yang berjaga sejak Jumat pukul 24.00 hingga Sabtu pagi pukul 08.00. Matanya berpindah-pindah dari sel ke kacang kulit di tangannya. Terus begitu hingga pukul 5 pagi ketika deru sepeda motor memecah sunyi hari itu.

Nyepi sudah selesai. Matahari pertama tahun 1930 Caka bersinar menemani orang-orang berangkat ke pasar.

PS. u know what? hari pertama tahun baru caka, jam 5 pagi gw keluar iseng liat langit…dan langitnya emang indah banget…bener2 kayak Tuhan lagi foya2 abis gajian, buang-buang marjan….cantik bangit langit sanur ketika subuh itu:)

Comments 1 Comment »

i am not good at writing straight news: because i can`t see the conflict inside. i am too naive, positive, and i am not the sceptic one, the most valuable thing to be a journalist. my editor cut my reports and he said he will send me to criminal desk so i will have a good nose like a dog.

so, here i will share u my soft-news, the only one i like, my pleasure since my editor yelled at me this morning: kamu nulis berita apa notulen??? *damnl!*

Dari kemarin, saya memburu janda-janda korban Bom Bali I. Moment-nya adalah sidang PK Amrozi cs di Denpasar minggu kemarin.

Yang pertama saya temukan adalah Ni Wayan Rasni: secara kontak maupun secara jalan. Ingat, saya baru 3 hari terjun di lapangan, masih menjadikan peta Denpasar sebagai kitab pedoman, juru selamat di jalan.

Rasni adalah salah satu janda yang suaminya terbunuh pada peristiwa Bom Bali I, 12 Oktober 2002. Suaminya adalah Made Sujana, satpam Sari Club, yang baru 2 tahun bekerja di situ.

Setelah kematian suaminya, otomatis Rasni yang menanggung hidup ketiga anak-anaknya. Anak tertuanya sudah menginjak kelas 2 SMU, sedangkan anak kedua masih duduk di kelas 6 SD dan si bungsu kelas 3 SD. Mereka adalah Wayan Limna, Made Bisma, dan Nyoman Purnama.

Sebagai ibu rumah tangga, Rasni tidak memiliki ketrampilan khusus. Sehari-hari ia berkeliling menjajakan pakaian, yang modalnya ia dapat dari sebuah yayasan. Namun, toh tetap saja penghasilan Rasni hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga itu. Untung biaya pendidikan ketiga anaknya ditanggung KIDS Foundation hingga SMU.

Saat sedang berkunjung ke rumah keluarga Rasni di sebelah Pasar Renon, Tukad Yeh Aya, saya sedang melihatnya mengumpulkan botol-botol bekas dan kardus bekas. Seorang tukang barang rongsokan sedang menimbang-nimbang harganya. Terjadi debat seru dalam tawar-menawar itu. Kardus setengah basah dan botol tidak berleher. Tidak laku di pasaran, kata si abang. Tidak terjadi kesepakatan. Rasni tak mau kalah, meski harus kehilangan 20.000 rupiah, tidak dilepasnya barang-barang rongsokan itu.

"Saya maunya 20.000. Bukan setengahnya. Nanti kardusnya bisa dijemur, biar saya tawarkan ke tukang yang lain," katanya optimis.

Saya duduk di teras rumahnya saat itu, hanya bisa tersenyum melihat debat seru dalam bahasa Bali yang tidak saya mengerti. Di sebelah saya si bungsu Purnama, hampir merengek karena ibunya tak dapat uang tambahan hari itu.

Betapa berharganya botol kosong dan kardus bekas itu untuk keluarga ini.

Mungkin Amrozi punya juga kardus bekas dan botol kosong? Siapa tahu Wayan Rasni bisa dapat uang lebih banyak hari ini.

Denpasar, 3 Maret 2008

Comments 2 Comments »

James Nachtwey, seorang wartawan foto terkenal, memulai karirnya sebagai jurnalis di sebuah koran lokal di sebuah kota kecil New Mexico, selama 4 tahun.

Uswatul Chabibah, (yang akan menjadi wartawan besar), memulai karirnya sebagai jurnalis di sebuah koran lokal NusaBali di kota kecil Denpasar, dengan kontrak 3 tahun.

Dan di sinilah saya sekarang, Denpasar, sebuah kota internasional, namun luas wilayahnya lebih kecil dari Depok, kota yang saya tempati hampir 7 tahun terakhir ini.

Dan inilah awal saya menjadi jurnalis yang sesungguhnya, setelah selama ini hanya menjadi reporter kampus, atau ujicoba membuat majalah-majalah  komunitas bersama teman saya, Irvin alias Me`eng.

Hari pertama terjun di lapangan (27 Februari 2008)

Hari pertama saya dibebaskan kemana saja. Intinya hari itu saya dilepas tanpa bekal proyeksi, tanpa penugasan, malah saya pikir saya lagi libur training. Tapi untungnya saya berkenalan dengan reporter Sindo yang mengajak saya sarapan di sebuah warung Jawa di depan kampus Universitas Warmadewa. Saya berkenalan juga dengan wartawan Sindo yang lain. Setelah mereka tahu saya alumni FIB-UI, saya ditawari mengisi desk bahasa Inggris yang sedang dipersiapkan Sindo. Tertarik. Sangat tertarik. Menulis dan mengolah berita dalam bahasa Inggris. Siapa yang tidak tertantang. Tapi saya tidak bisa. Hari pertama harus nir-dosa. Entah kalau hari berikutnya, he..he..he…

Setelah sarapan (dengan terus memandang iri mahasiswa-mahasiswa Warmadewa yang berangkat kuliah), saya ngintil ke PD Parkir. Hari ini Walikota Denpasar, AA Puspayoga, akan menyerahkan beasiswa kepada anak para juru parkir yang berprestasi. Saya berpikir, kalau di Kompas, ini cuma akan masuk halaman Seremoni. Setelah basa-basi dengan para pejabat, saya duduk dengan para wartawan. Wow! Satu-satunya wartawan perempuan, tanpa bekal, kecuali selembar peta Denpasar, hasil pemberian seorang wartawan Sindo yang kasihan kepada perempuan yang berbakat kesasar.

Acaranya? Basi!

Setelah sambutan, serah terima beasiswa, dan haha hihi sana sini, para wartawan berhamburan keluar mencegat Pak Walikota dan Direktur PD Pasar. Menanyakan tentang beasiswa-kah? Bukan. Mereka menanyakan komentar kedua tokoh daerah ini tentang Pilkada.

Saya? Saya belum mengerti benar dinamika politik lokal. Memang Denpasar tengah bersiap-siap untuk Pilkada. Saya bergabung di kerumunan itu mendengarkan dan belajar melihat bagaimana para mas-mas wartawan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terdengar seperti seloroh, untuk memancing komentar-komentar yang layak dijadikan berita. Menyenangkan.

Saya sempat mencuri waktu sebentar, mewawancarai salah seorang penerima mahasiswa. Satu-satunya yang berstatus mahasiswa di antara para penerima beasiswa. Mahasiswa ini anak juru parkir. Sampai situ saja sudah cukup membuat orang kagum. Mahasiswa ini pernah juara Olimpiade Matematika, peringkat kedua. Luar biasa. Apalagi yang bisa saya katakan, kecuali memberi ucapan selamat di akhir wawancara, kepada mahasiswa itu, terlebih lagi kepada ayahnya, sang juru parkir dengan seragam biru pudar, yang berhasil mendidik anaknya dengan semangat luar biasa. Mahasiswa itu namanya Putu Ferry Andika, semester 2 Jurusan Matematika IKIP PGRI Denpasar.

Setelah itu saya diajak ke Dinas Lingkungan Hidup. Inilah pertama kalinya saya masuk ke instansi resmi. Setelah selama ini saya lebih sering membantu program-program lingkungan hidup dari JIP (Joint Initiative Program-dikelola oleh mahasiswa-mahasiswa penerima beasiswa Sasakawa). Di sana saya bertemu dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Denpasar. Seperti yang sudah saya duga sebelumnya: pernyataan-pernyataan diplomatis, birokratif, dan normatif. Untungnya para mas-mas wartawan itu mahir mengorek isi otak Pak Kadis. Paling tidak, keesokan harinya di koran muncul polemik antara Kadis dan DPRD mengenai dana monitoring terumbu karang dan hutan mangrove di Denpasar.

Cukup itu saja laporan liputan saya hari ini. Sorenya, saya berkeliling sendiri dengan bekal peta di tangan. Habis bensin setengah tangki. Pantat pegal. Hitam punggung tangan. Belang membekas di garis jilbab. Saya berhasil menemukan jalan pulang setelah 3 jam berputar-putar. Jam 7 malam, langit masih menyisakan terang, matahari hampir tenggelam. Di Bali, ini waktunya sholat Maghrib. Kata teman saya sih begitu, soalnya saya jarang mendengar adzan di sini.

Bismillah saja, kata ibu saya ketika saya bercerita susahnya memastikan waktu sholat.

Iya, Bismillah saja. Itu juga yang saya ucapkan ketika ditanya kesiapan saya pindah ke Denpasar.

Comments 3 Comments »

permisi, mbak. mau pesan apa?

mmm… aku mau robby kecap manis satu. lalapannya tak perlu

maaf, mbak. robby kecap manisnya sedang kosong. lagipula, menu itu sedang berusaha dihapus dari daftar. takut jadi obsesi seseorang.

ok. kalau begitu aku mau robby bumbu bali

yah, sayang sekali. bumbunya sedang ke bali.
konon dia akan lama di pulau sorga

baiklah. bagaimana kalau aku pesan robby bakar hati cah pati?

waduh. mbak belum tahu, ya? koki di kafe ini tak mau lagi membuat menu itu. terlalu banyak arang yang harus dikorbankan, lagipula menu itu membahayakan hati, mbak. karsinogen-nya terlalu tinggi.

oya? aku tak mau terkena kanker hati kalau begitu.

sepertinya sudah, mbak.

nggak usah sok tahu!

maaf, mbak. tapi itu, hati mbak kelihatan sedang meradang, merahnya menyala tak wajar, percik apinya sampai berlompatan di atas meja. sebaiknya mbak memakai jaket yang lebih tebal, siapa tahu nyala hati mbak lebih tenang, syukur-syukur bisa padam.
lagipula, biar taplak meja kafe saya tak terbakar.

hhh…begini saja.
kalau kamu takut taplak mejamu terbakar terkena percik hati yang meradang,
tolong buatkan aku es pocong robby dengan topping stroberi dan taburi irisan kiwi.
sekarang.

saya tidak menyarankan menu itu, mbak.
itu semacam merayakan dendam tak kesampaian dalam kepedihan, mbak.

jadi, apa saranmu, pelayan yang sok maha tahu?

robby

robby apa?

robby wahyudi gusti


aneh. itu nama kucingku di kosan.
persis begitu namanya: robby wahyudi gusti
aku nggak mau menu itu.
serasa makan kucingku sendiri nanti.
sudahlah, aku pulang saja.
aku mau main-main dengan robby di sofa kosan sambil menonton tv sampai ketiduran.
selamat malam!

denpasar, 21 februari 2008

Comments 9 Comments »