Posts Tagged “love”

Forgotten Me- OST. Perhaps Love

ming ming shi ni shen yin.

shi ni de bei ying.
ni yong mo sheng de yan shen.
rang wo chen mo.

nan dao shi ni gu yi , shi tan wo de xin.
cuo de ye xu shi hui yi.
ni bu shi ni.

ni shi shei ni shi shei  wang le ai guo wo.
xin wei ni zui  xin wei ni sui.
wei ni zhi mi bu hui.
ai ceng jing cun zai.
huo zhe zhi shi wo de gan jue.
zen me ni hui ren xin ba wo wang ji.

Life is like a film

Each of us is the lead of our own film

Some might assume he is also the co-lead of someone else`s film

But in fact, his role is merely supporting

Or just a bit part

Or worse, his scenes could have been edited out

He just doesn`t know it……………….

Ga pernah bosen gw nonton film ini, seperti gw ga pernah bosen nonton before sunrise-before sunset, eternal sunshine of the spotless mind, atau amelie………..membuat gw bertanya-tanya pada diri gw apakah gw ga percaya cinta atau justru terlalu diromantisasi cinta?

Pun sebenarnya gw ga ngerti cinta, seperti gw ga ngerti tuhan, seperti gw ga ngerti agama, seperti gw ga ngerti masa depan, seperti gw ga ngerti bahagia, seperti gw ga ngerti hidup….

Kalibata, 18 September 2008

Comments No Comments »

Seorang kakek tua, berkacamata tebal, dengan tangan rapuh penuh keriput, duduk di atas kursi dengan sebuah buntalan berbalut kertas coklat di pangkuannya. Tangannya gemetar membuka kertas itu, lalu perlahan terlihat sebuah jambangan bunga muncul di balik pembungkusnya…jambangan bunga yang mengingatkannya di masa muda bersama kekasih tercinta, saat mereka berseteru dan salah satu membantingnya……(Video klip Padi-Sesuatu Yang Indah)

Aku ingin bercerita tentang keriput.

Setiap kali aku melihat keriput, aku selalu berpikir bahwa itu bukan sekedar pahatan usia.

Bukan sekedar seperti urat kayu yang menyatakan umurmu

Itu adalah saksi yang tak pernah alpa merekam detik-detik perjalananmu…

Berapa lama? Enam puluh tahunkah…tujuh puluh tahunkah…satu abadkah?

Suatu hari ketika jalan-jalan di kota lama Semarang, sepasang suami istri, kakek-nenek, naik sepeda berdua melintasi jalan berpaving kota lama. Si nenek berkebaya dan berkain lusuh, duduk menyamping di belakang si kakek, lengan kanannya erat melingkar di pinggang kurus si kakek, mempercayakan seluruh nyawa pada tubuh yang sama ringkihnya. Pemandangan yang luar biasa. Bisakah suatu hari aku merasakannya? Melingkarkan lenganku yang keriput pada tubuh yang sama rapuhnya tapi aku senantiasa merasa kuat saat bersamanya?

Bisakah?

Hanya saja, mencintai memang begitu sulit

Mencintai hingga keriput menghias tubuh memang begitu sulit

Seperti keriput menggores setiap pertengkaran

Seperti keriput memahat setiap perpisahan

Seperti keriput menuliskan maki dan amarah

Seperti keriput yang merekam semua kesalahpahaman

Seperti keriput yang mengukir setiap cinta dan sayang

Bisakah sepasang manusia memahat keriput bersama?

Terlalu mewahkah keinginan untuk memahat keriput bersama?

Kalibata, 17 September 2008

Comments No Comments »